GANGGUAN KOMUNIKASI ATAU TUNA WICARA
GANGGUAN KOMUNIKASI ATAU TUNA WICARA
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Pendidikdn Anak Luar Biasa
Dosen Pengampu : Dr. Muhammad Idrus
Disusun Oleh :
1. Panji Cahyotomo (11422050 )
2. Yuni Wahyuningsih (12422068)
3. Wiwik Siti Nuradha (11422040)
FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak adalah karunia terbesar yang diberikan Tuhan Sang Maha Pencipta kepada kita umat manusia. Tentunya setiap orang tua mengidamkan mempunyai anak yang terlahir dengan sempurna baik itu secara fisik ataupun rohani. namun tidak semua hal tersebut terwujud. dalam suatu peristiwa tertentu anak dilahirkan dengan pembawaan tertentu seperti kecacatan fisik dan sebagainya. Tuhan mempunyai rahasia tersendiri sehingga ada anak yang di lahirkan normal dan ada pula yang di lahirkan "istimewa" salah satunya adalah anak tunawicara.
Tunawicara merupakan individu yang mengalami kesulitan dalam berbicara atau berkomunikasi. Hal ini dapat disebabkan karena tidak berfungsinya alat-alat berbicara seperti rongga mulut, lidah, langit-langit dan pita suara.
Tunawicara sering juga disebut dengan bisu, orang yang bisu dapat diikuti dengan tunarungu atau tidak berfungsinya organ telinga atau tidak dapat mendengar. Hal itu dapat disebabkan dari bawaan lahir ataupun kecelakaan walaupun tidak semua tunawicara tidak dapat mendengar, ia masih dapat mendengar walaupun hanya sedikit. Adanya mereka dilingkungan orang-orang yang normal adalah sama-sama membutuhkan pendidikan atau pembelajaran agar mereka tetap hidup dan tidak berkecil hati dengan keadaan yang sedang dialaminya. Kemudian supaya dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya dan masyarakat luas.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan tuna wicara ?
2. Apa saja faktor penyebab tuna wicara ?
3. Apa saja karakteristik tuna wicara ?
4. Bagai mana penanganan anak dengan kelainan bicara atau tuan wicara ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tuna Wicara
Bahasa merupakan alat komunikasi yang dipergunakan manusia dalam mengadakan hubungan dengan sesamanya. Jika seorang anak mengalami tunawicara mereka akan kesulitan untuk mengembangkan diri melalui segi sosial, emosional, maupun intelektualnya. Anak-anak tunawicara juga akan kesulitan mengungkapkan perasaan dan keinginannya terhadap sesama, memperoleh pengetahuan, dan saling bertukar pikiran.
Tunawicara adalah mereka yang menderita tuna rungu sejak bayi/lahir, yang karenanya tidak dapat menangkap pembicaraan orang lain, sehingga tak mampu mengembangkan kemampuan bicaranya meskipun tak mengalami ganguan pada alat suaranya.
Anak dengan hendaya pendengaran dan bicara ( tunarung tunawicara ), pada umumnya mereka mengalami hambatan pendengara dan kesulitan melakukan komunikasi secara lisan dengan orang lain. Bila dibandingkan dengan anak cacat lainnya, penderita tunawicara cenderung tergolong yang paling ringan, karena secara lahiriah mereka tidak kelihatan memiliki kelainan dan tampak seperti orang normal.Salah satu penyebab yang paling sering terjadi pada Tunawicara adalah gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi secara dini, karena permasalahan paling mendasar yang dialami seorang tuli adalah kurang mendapat stimulasi bahasa sejak lahir.
Menurut Menurut Frieda Mangunsong,dkk dalam Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Biasa, tuna wicara atau kelainan bicara adalah hambatan dalam komunikasi verbal yang efektif. Kemudian menurut Dr. Muljono Abdurrachman dan Drs.Sudjadi S dalam Pendidikan Luar Biasa Umum (1994) gangguan wicara atau tunawicara adalah suatu kerusakan atau gangguan dari suara, artikulasi dari bunyi bicara, dan atau kelancaran berbicara.
Menurut Heri Purwanto dalam buku Ortopedagogik Umum (1998) tuna wicara adalah apabila seseorang mengalami kelainan baik dalam pengucapan (artikulasi) bahasa maupun suaranya dari bicara normal, sehingga menimbulkan kesulitan dalam berkomunikasi lisan dalam lingkungan.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tunawicara adalah individu yang mengalami kesulitan atau gangguan dalam komunikasi verbal sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.
Tingkatan keparahan tunarungu atau tunawicara dapat diketahui melalui tes pendengran sederhana, yang digolongkan menjadi :
1. 0 – 26 dB masih mempunyai pendengaran normal.
2. 27 – 40 dB mempunyai kesulaitan mendengar tingkat-ringan, masih mampu mendengar bunyi – bunyi yang jauh. Individu tersebut membutuhkan terapi bicara.
3. 41 – 55 dB termasuk tingkat menengah, dapat mengerti bahasa percakapan. Individu tersebut membutuhkan alat bantu dengar.
4. 56 – 70 dB termasuk tingkat menengah berat. Kurang mampu mendengar dari jarak dekat, memerlukan alat bantu dengar dan membutuhkan latihan berbicara secara khusus.
5. 71 – 90 dB termasuk tingkat berat. Individu tersebut termasuk orang yang mengalami ketulian, hanya mampu mendengarkan suara keras yang berjarak kurang lebih satu meter. Kesulitan membedakan suara yang berhubungan dengan bunyi secra tepat.
6. 91 – dan seterusnya, termasuk individu yang mengalami ketulian sangat berat. Tidak dapat mendengar suara. Sangat membutuhkan bantuan khusus secara intensif terutama dalam keterampilan percakapan atau berkomunikasi.
7. Perilaku yang muncul terhadap peserta didik dengan hendaya pendengaran di sekolah secara dominan berkaitan dengan hambatan dalam perkembangan bahasa dan komunikasi ( gregory, S.al. 1998:47-57 ).
B. Faktor Penyebab Tunawicara
Drs. Sardjono mengutip (Moh. Amni dkk,1979,hal 23) Anak tunawicara dapat terjadi karena gangguan ketika :
a. Sebelum anak dilahirkan/ masih dalam kandungan (pre natal)
1. Hereditas (keturunan)
Yaitu apabila anak tunawicara sejak dalam kandungan karena diantara keluarga terdapat tunawicara atau membawa gen tunawicara sehingga ketika lahir anak tersebut memiliki gangguan tunawicara. Ini disebut dengan tuli genetis. Perbedaan rhesus ayah dan ibu juga dapat menyebabkan abnormalitas pada kelahiran anak.
2. Anoxia
Kekurangan oksigen dalam janin dapat menyebabkan kerusakan pada otak dan syaraf yang menyebabkan ketidaksempurnaan organ salah satunya aorgan bicara seperti pita suara,tenggorokan,lidah,dan mulut.
b. Pada waktu proses kelahiran dan baru dilahirkan (umur neo natal)
1. Prematur
Bayi-bayi prematur yang lahir dengan berat badan tidak normal dan lahir dengan organ tubuh yang belum sempurna dapat mengakibatkan kebisuan yang kadang disertai ketulian. Kurangnya berat pada ketika lahir juga dapat menyebabkan jaringan-jaringan .
c. Setelah dilahirkan ( pos natal)
1. Infeksi
Sesudah dilahirkan anak menderita infeksi misalnya campak yang menyebabkan tuli preseftik,virus akan mennyerang cairan koklea,menyebabkan anak menderita otitis media (koken). Akibat yang sama akan terjadi bila anak menderita scaerlet fever,dipteri, batuk hejang atau tertular sifilis.
2. meningitis(radang selaput otak)
Penderita akan mengalami kelainan pada pusat syraf pendengaran dan akan mengalami ketulian perseptif.
3. infeksi alat pernafasan
Seseorang dapat menjadi tuna wicara apabila terjadi gangguan pada organ pernafasan seperti paru-paru, laring, atau gangguan pada mulut dan lidah.
Nelson mengemukakan faktor-faktor yang berkaitan dengan kelaina berbicara dan bahasa yaitu :
1. Faktor sentral : yaitu berhubungan dengan sayaraf pusat.
• Ketidak mampuan berbahasa yang spesifik
• Keterbelakangan mental
• Autisme
• Defisit dalam hal perhatian dan hiperaktivitas
• Luka otak (brain injury)
2. Faktor Periferal : yaitu hubungan dengan gangguan sensoris atau fisik
• Gangguan pendengaran
• Gangguan penglihatan
• Gangguan fisik
3. Faktor lingkungan dan emosional : dikarenakan oleh faktor lingkungan fisik dan psikologik
• Penyia-nyiaan dan penganiyayan
• Maslah perkembangan perilaku dan emosi
4. Faktor-faktor campuran yaitu faktor-faktor kombinasai dari faktor sentral, faktor periferal, dan faktor lingkungan dan emosional.
C. Karakteristik Tunawicara
Karakteristik tunawicara yang merupakan ciri-ciri fisik psikis :
a) Berbicara keras dan tidak jelas
b) Suka melihat gerak bibir atau gerak tubuh teman bicaranya
c) Telinga mengeluarkan cairan
d) Menggunakan alat bantu dengar
e) Bibir sumbing
f) Suka melakukan gerakan tubuh
g) Cenderung pendiam
h) Suara sengau
i) Cadel
Sheridan ( 1973, dalam Telford dan Sawrey. 1981), mengemukakan bahwa ada karekteristik-karakteristik khusus pada anak-anak dengan ganguan bicara yaitu, kemungkinan-kemungkinan :
1. Terjadi pada anak-anak yang lahir prematur.
2. Kemungkinannya empat kali lipat pada anak yang belum berjalan pada usai 18 bulan.
3. Belum bisa berbicara dalam bentuk kalimat pada usia dua tahun.
4. Memiliki gangguan penglihatan.
5. Sering dikategorikan sebagi anak yang kikuk (clumsy) oleh gurunya.
6. Dari segi perilaku kurang bisa menyesuaikan diri.
7. Sulit membaca.
8. Banyak terjadi pada anak laki-laki dari pada perempuan.
Cara untuk membantu anak tunawicara adalah :
a. Bicara harus jelas dengan ucapan yang benar
b. Gunakan kalimat sederhana dan singkat
c. Gunakan komunikasi non verbal seperti gerak bibir atau gerakan tangan
d. Gunakan pulpen dan kertas untuk menyampaikan pesan
e. Bicara berhadapan muka
f. Latihan gerak bibir dengan cermin
g. Latihan menggunakan bahasa isyarat
(ABK TUK TENDIK.pdf Revisi I : Yogyakarta, 23-26 Maret 2010 dr Yulia Suharlina dan Hidayat)
D. Penanganan Anak Dengan Kelainan Bicara Atau Tuan Wicara
Komunikasi merupakan bagian integral dalam kehidupan anak, oleh karenanya apabila anak mengalami kelainan dalam bicara ataupun bahasa, maka harus segera ditangani. Karena kelainan-kelainan tersebut berbeda dalam sifat maupaun sebabnya. Maka penangannya juga berbeda. Beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain :
1. Secara Medis
Perawatan kelainan bicara selain dilakukan oleh seorang “ speech pathologist” juga dilakukan oleh seorang ahli THT. Penanganan medis penting dalam perawatan kelainan bicara yang disebabkan kesusakan saluran pernafasan, otot wajah dan mulut. Misalnya pada kasus anak yang mengalami Cleft palate, maka upaya operasi perlu dilakukan sedini mungkin, sehingga memunikinkan anak untuk belajar bahasa secra tepat.
2. Secara Psikologis
Adanya kelainan bicara dapat menyebabkan problem penyesuaian diri. Intervensi secara psikologis lebih banyak digunakan untuk menolong anak-anak gagap dan anak-anak dengan kelainan bahasa. Intervensi secara psikologis ini tampak kurang efektif pada kelainan bahasa dibandingkan pada kasusu gagap.
3. Dalam Pendidikan
Pada beberapa kasus, usaha intensif dilakukan dengan mengajarkan anak bunyi-bunyian spesifik dan kemudian melelui pengulangan membentuk kata-kata yang dihubungkan dengan obyek stimulus tertentu. Walaupun demikian anak dengan kelainan bahasa yang berat mungkin hanya sedikit menunjukkan kemajuannya.
Keluarga perlu banyak menyediakan kegiatan bermaian yang memungkinkan anak menggunakan verbalisasi. Orang tua, dalam hal ini paling berperan untuk mengajarkan anak untuk menguasai bahasa. Sedangkan pada masa prasekolah, guru bisa mengajarkan anak keterampilan bercakap-cakap. Misalnya belajar menceritakan pengalaman dan menceritakan mengapat sesutau itu terjadi. Jadi, keterampialan yang dikembengakan bukan hanya menambah perbendaharaan kata. Guru sebagai tokoh panutan juaga harus menggunakan bahasa yang pantas untuk ditiru. Misalnya dengan cara-cara yang informatif, reflektif serte menawarkan pemecahan dalam berproses terhadap siswa ( Roberts. Et al, 1989: dalam Hallahan dan Kauffman. 1994 ).
Apabila anak tampak sangat bermasalah, maka guru harus bekerjasama dengan speech language pathologist dalam lingkungan alamiah anak. Sehingga anaka belajar dari lingkungannya secara tepat dan terarah. Hal ini penting, menggingat penggunaan bahasa merupakan aktivitas sosial.
Sedangkan untuk sekolah yang tidak memiliki ahali dalam bidang bicara dan bahasa. Maka beberapa hal perlu diperhatikan dalam menangani anak-anak dengan kelainan bicara dan bahasa yaitu: Guru-guru harus :
1. Menerima anak sebagi individu sepenuhnya
2. Menerima terhadap ketidak lancaran dengan cara yang santai dan tidak memalukan
3. Tidak melihat kearah lain apabila berbicara dengan anak atau tidak mengambilalih pembicaraan anak
4. Mendorong anak untuk berbicara di muka kelas tapi jangan dengan cara memaksa
5. Menyediakan tugas-tugas dan tanggungjawab nonverbal untuk tidak terlalu menekankan kekurangannya
6. Menekanken kelebihan-kelebihan yang dimiliki anak untuk meningkatkan kepercayaan diri.
7. Mendorong partisipsi kelompok untuk mendukung anak
8. Menyediakan pengalaman berbahasa oral bagi anak, mislnya melalui kegiatan membeca berkelompok atau percakapan bahasa.
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Tunawicara adalah individu yang mengalami kesulitan atau gangguan dalam komunikasi verbal sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Anak dengan gangguan dengar/wicara dikelompokan sebagai berikut diantaranya ringan, sedang dan berat atau parah. Tingkat Faktor penyebab tuna wicara disebabkan oleh gangguan pada sebelum kelahiran (pre natal) , saat kelahiran (neo natal) dan setelah kelahiran (pos natal). Kemudian faktor Sentral, faktor periferal, faktor lingkungan dan emosional, dan faktor-faktor campuran.
Karakteristik tunawicara yang merupakan ciri-ciri fisik dan psikis : Berbicara keras dan tidak jelas, Suka melihat gerak bibir atau gerak tubuh teman bicaranya, Telinga mengeluarkan cairan, Menggunakan alat bantu dengar, Bibir sumbing, Suka melakukan gerakan tubuh, Cenderung pendiam, Suara sengau, Cadel.
Cara untuk membantu anak tunawicara adalah : Bicara harus jelas dengan ucapan yang benar, Gunakan kalimat sederhana dan singkat, Gunakan komunikasi non verbal seperti gerak bibir atau gerakan tangan, Gunakan pulpen dan kertas untuk menyampaikan pesan, Bicara berhadapan muka, Latihan gerak bibir dengan cermin, Latihan menggunakan bahasa isyarat.
Penanganan anak dengan kelainan bicara atau tuan wicara beberapa halayang dapat dilakaukan : secara medis, secara psikologis, dan dalam pendidikan.
2. SARAN
Anak tuna wicara harus dibantu agar dapat bersosialisasi dengan orang lain sehingga ia tidak dipandang melalui kekurangannya. Anak tuna wicara juga dapat dilatih seperti manusia normal pada umumnya, namun mereka hanya sulit berbicara. Tuna wicara juga memerlukan pendidikan yang dapat mendukung mereka serta menghilangkan hambatan – hambatan pada diri mereka seperti sekolah- sekolah umum dan khusus.
DAFTAR PUSTAKA
1. Mangunsong, Frieda, dkk.( 1998), Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Biasa. Jakarta: LPSP3 UI.
2. Prof. Dr. Bandi Delphie, M. A., S. E. (2006), Pembelajarn Anak Berkubutuhan Khusus. Bandung : Refika Aditama.
3. Fathin Fauziah. Http://Fathinfauziah.Blogspot.Com/2012/11/Makalah-Anak-Tunawicara.Html. 30-09-2013. 20:41
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Pendidikdn Anak Luar Biasa
Dosen Pengampu : Dr. Muhammad Idrus
Disusun Oleh :
1. Panji Cahyotomo (11422050 )
2. Yuni Wahyuningsih (12422068)
3. Wiwik Siti Nuradha (11422040)
FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak adalah karunia terbesar yang diberikan Tuhan Sang Maha Pencipta kepada kita umat manusia. Tentunya setiap orang tua mengidamkan mempunyai anak yang terlahir dengan sempurna baik itu secara fisik ataupun rohani. namun tidak semua hal tersebut terwujud. dalam suatu peristiwa tertentu anak dilahirkan dengan pembawaan tertentu seperti kecacatan fisik dan sebagainya. Tuhan mempunyai rahasia tersendiri sehingga ada anak yang di lahirkan normal dan ada pula yang di lahirkan "istimewa" salah satunya adalah anak tunawicara.
Tunawicara merupakan individu yang mengalami kesulitan dalam berbicara atau berkomunikasi. Hal ini dapat disebabkan karena tidak berfungsinya alat-alat berbicara seperti rongga mulut, lidah, langit-langit dan pita suara.
Tunawicara sering juga disebut dengan bisu, orang yang bisu dapat diikuti dengan tunarungu atau tidak berfungsinya organ telinga atau tidak dapat mendengar. Hal itu dapat disebabkan dari bawaan lahir ataupun kecelakaan walaupun tidak semua tunawicara tidak dapat mendengar, ia masih dapat mendengar walaupun hanya sedikit. Adanya mereka dilingkungan orang-orang yang normal adalah sama-sama membutuhkan pendidikan atau pembelajaran agar mereka tetap hidup dan tidak berkecil hati dengan keadaan yang sedang dialaminya. Kemudian supaya dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya dan masyarakat luas.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan tuna wicara ?
2. Apa saja faktor penyebab tuna wicara ?
3. Apa saja karakteristik tuna wicara ?
4. Bagai mana penanganan anak dengan kelainan bicara atau tuan wicara ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tuna Wicara
Bahasa merupakan alat komunikasi yang dipergunakan manusia dalam mengadakan hubungan dengan sesamanya. Jika seorang anak mengalami tunawicara mereka akan kesulitan untuk mengembangkan diri melalui segi sosial, emosional, maupun intelektualnya. Anak-anak tunawicara juga akan kesulitan mengungkapkan perasaan dan keinginannya terhadap sesama, memperoleh pengetahuan, dan saling bertukar pikiran.
Tunawicara adalah mereka yang menderita tuna rungu sejak bayi/lahir, yang karenanya tidak dapat menangkap pembicaraan orang lain, sehingga tak mampu mengembangkan kemampuan bicaranya meskipun tak mengalami ganguan pada alat suaranya.
Anak dengan hendaya pendengaran dan bicara ( tunarung tunawicara ), pada umumnya mereka mengalami hambatan pendengara dan kesulitan melakukan komunikasi secara lisan dengan orang lain. Bila dibandingkan dengan anak cacat lainnya, penderita tunawicara cenderung tergolong yang paling ringan, karena secara lahiriah mereka tidak kelihatan memiliki kelainan dan tampak seperti orang normal.Salah satu penyebab yang paling sering terjadi pada Tunawicara adalah gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi secara dini, karena permasalahan paling mendasar yang dialami seorang tuli adalah kurang mendapat stimulasi bahasa sejak lahir.
Menurut Menurut Frieda Mangunsong,dkk dalam Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Biasa, tuna wicara atau kelainan bicara adalah hambatan dalam komunikasi verbal yang efektif. Kemudian menurut Dr. Muljono Abdurrachman dan Drs.Sudjadi S dalam Pendidikan Luar Biasa Umum (1994) gangguan wicara atau tunawicara adalah suatu kerusakan atau gangguan dari suara, artikulasi dari bunyi bicara, dan atau kelancaran berbicara.
Menurut Heri Purwanto dalam buku Ortopedagogik Umum (1998) tuna wicara adalah apabila seseorang mengalami kelainan baik dalam pengucapan (artikulasi) bahasa maupun suaranya dari bicara normal, sehingga menimbulkan kesulitan dalam berkomunikasi lisan dalam lingkungan.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tunawicara adalah individu yang mengalami kesulitan atau gangguan dalam komunikasi verbal sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.
Tingkatan keparahan tunarungu atau tunawicara dapat diketahui melalui tes pendengran sederhana, yang digolongkan menjadi :
1. 0 – 26 dB masih mempunyai pendengaran normal.
2. 27 – 40 dB mempunyai kesulaitan mendengar tingkat-ringan, masih mampu mendengar bunyi – bunyi yang jauh. Individu tersebut membutuhkan terapi bicara.
3. 41 – 55 dB termasuk tingkat menengah, dapat mengerti bahasa percakapan. Individu tersebut membutuhkan alat bantu dengar.
4. 56 – 70 dB termasuk tingkat menengah berat. Kurang mampu mendengar dari jarak dekat, memerlukan alat bantu dengar dan membutuhkan latihan berbicara secara khusus.
5. 71 – 90 dB termasuk tingkat berat. Individu tersebut termasuk orang yang mengalami ketulian, hanya mampu mendengarkan suara keras yang berjarak kurang lebih satu meter. Kesulitan membedakan suara yang berhubungan dengan bunyi secra tepat.
6. 91 – dan seterusnya, termasuk individu yang mengalami ketulian sangat berat. Tidak dapat mendengar suara. Sangat membutuhkan bantuan khusus secara intensif terutama dalam keterampilan percakapan atau berkomunikasi.
7. Perilaku yang muncul terhadap peserta didik dengan hendaya pendengaran di sekolah secara dominan berkaitan dengan hambatan dalam perkembangan bahasa dan komunikasi ( gregory, S.al. 1998:47-57 ).
B. Faktor Penyebab Tunawicara
Drs. Sardjono mengutip (Moh. Amni dkk,1979,hal 23) Anak tunawicara dapat terjadi karena gangguan ketika :
a. Sebelum anak dilahirkan/ masih dalam kandungan (pre natal)
1. Hereditas (keturunan)
Yaitu apabila anak tunawicara sejak dalam kandungan karena diantara keluarga terdapat tunawicara atau membawa gen tunawicara sehingga ketika lahir anak tersebut memiliki gangguan tunawicara. Ini disebut dengan tuli genetis. Perbedaan rhesus ayah dan ibu juga dapat menyebabkan abnormalitas pada kelahiran anak.
2. Anoxia
Kekurangan oksigen dalam janin dapat menyebabkan kerusakan pada otak dan syaraf yang menyebabkan ketidaksempurnaan organ salah satunya aorgan bicara seperti pita suara,tenggorokan,lidah,dan mulut.
b. Pada waktu proses kelahiran dan baru dilahirkan (umur neo natal)
1. Prematur
Bayi-bayi prematur yang lahir dengan berat badan tidak normal dan lahir dengan organ tubuh yang belum sempurna dapat mengakibatkan kebisuan yang kadang disertai ketulian. Kurangnya berat pada ketika lahir juga dapat menyebabkan jaringan-jaringan .
c. Setelah dilahirkan ( pos natal)
1. Infeksi
Sesudah dilahirkan anak menderita infeksi misalnya campak yang menyebabkan tuli preseftik,virus akan mennyerang cairan koklea,menyebabkan anak menderita otitis media (koken). Akibat yang sama akan terjadi bila anak menderita scaerlet fever,dipteri, batuk hejang atau tertular sifilis.
2. meningitis(radang selaput otak)
Penderita akan mengalami kelainan pada pusat syraf pendengaran dan akan mengalami ketulian perseptif.
3. infeksi alat pernafasan
Seseorang dapat menjadi tuna wicara apabila terjadi gangguan pada organ pernafasan seperti paru-paru, laring, atau gangguan pada mulut dan lidah.
Nelson mengemukakan faktor-faktor yang berkaitan dengan kelaina berbicara dan bahasa yaitu :
1. Faktor sentral : yaitu berhubungan dengan sayaraf pusat.
• Ketidak mampuan berbahasa yang spesifik
• Keterbelakangan mental
• Autisme
• Defisit dalam hal perhatian dan hiperaktivitas
• Luka otak (brain injury)
2. Faktor Periferal : yaitu hubungan dengan gangguan sensoris atau fisik
• Gangguan pendengaran
• Gangguan penglihatan
• Gangguan fisik
3. Faktor lingkungan dan emosional : dikarenakan oleh faktor lingkungan fisik dan psikologik
• Penyia-nyiaan dan penganiyayan
• Maslah perkembangan perilaku dan emosi
4. Faktor-faktor campuran yaitu faktor-faktor kombinasai dari faktor sentral, faktor periferal, dan faktor lingkungan dan emosional.
C. Karakteristik Tunawicara
Karakteristik tunawicara yang merupakan ciri-ciri fisik psikis :
a) Berbicara keras dan tidak jelas
b) Suka melihat gerak bibir atau gerak tubuh teman bicaranya
c) Telinga mengeluarkan cairan
d) Menggunakan alat bantu dengar
e) Bibir sumbing
f) Suka melakukan gerakan tubuh
g) Cenderung pendiam
h) Suara sengau
i) Cadel
Sheridan ( 1973, dalam Telford dan Sawrey. 1981), mengemukakan bahwa ada karekteristik-karakteristik khusus pada anak-anak dengan ganguan bicara yaitu, kemungkinan-kemungkinan :
1. Terjadi pada anak-anak yang lahir prematur.
2. Kemungkinannya empat kali lipat pada anak yang belum berjalan pada usai 18 bulan.
3. Belum bisa berbicara dalam bentuk kalimat pada usia dua tahun.
4. Memiliki gangguan penglihatan.
5. Sering dikategorikan sebagi anak yang kikuk (clumsy) oleh gurunya.
6. Dari segi perilaku kurang bisa menyesuaikan diri.
7. Sulit membaca.
8. Banyak terjadi pada anak laki-laki dari pada perempuan.
Cara untuk membantu anak tunawicara adalah :
a. Bicara harus jelas dengan ucapan yang benar
b. Gunakan kalimat sederhana dan singkat
c. Gunakan komunikasi non verbal seperti gerak bibir atau gerakan tangan
d. Gunakan pulpen dan kertas untuk menyampaikan pesan
e. Bicara berhadapan muka
f. Latihan gerak bibir dengan cermin
g. Latihan menggunakan bahasa isyarat
(ABK TUK TENDIK.pdf Revisi I : Yogyakarta, 23-26 Maret 2010 dr Yulia Suharlina dan Hidayat)
D. Penanganan Anak Dengan Kelainan Bicara Atau Tuan Wicara
Komunikasi merupakan bagian integral dalam kehidupan anak, oleh karenanya apabila anak mengalami kelainan dalam bicara ataupun bahasa, maka harus segera ditangani. Karena kelainan-kelainan tersebut berbeda dalam sifat maupaun sebabnya. Maka penangannya juga berbeda. Beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain :
1. Secara Medis
Perawatan kelainan bicara selain dilakukan oleh seorang “ speech pathologist” juga dilakukan oleh seorang ahli THT. Penanganan medis penting dalam perawatan kelainan bicara yang disebabkan kesusakan saluran pernafasan, otot wajah dan mulut. Misalnya pada kasus anak yang mengalami Cleft palate, maka upaya operasi perlu dilakukan sedini mungkin, sehingga memunikinkan anak untuk belajar bahasa secra tepat.
2. Secara Psikologis
Adanya kelainan bicara dapat menyebabkan problem penyesuaian diri. Intervensi secara psikologis lebih banyak digunakan untuk menolong anak-anak gagap dan anak-anak dengan kelainan bahasa. Intervensi secara psikologis ini tampak kurang efektif pada kelainan bahasa dibandingkan pada kasusu gagap.
3. Dalam Pendidikan
Pada beberapa kasus, usaha intensif dilakukan dengan mengajarkan anak bunyi-bunyian spesifik dan kemudian melelui pengulangan membentuk kata-kata yang dihubungkan dengan obyek stimulus tertentu. Walaupun demikian anak dengan kelainan bahasa yang berat mungkin hanya sedikit menunjukkan kemajuannya.
Keluarga perlu banyak menyediakan kegiatan bermaian yang memungkinkan anak menggunakan verbalisasi. Orang tua, dalam hal ini paling berperan untuk mengajarkan anak untuk menguasai bahasa. Sedangkan pada masa prasekolah, guru bisa mengajarkan anak keterampilan bercakap-cakap. Misalnya belajar menceritakan pengalaman dan menceritakan mengapat sesutau itu terjadi. Jadi, keterampialan yang dikembengakan bukan hanya menambah perbendaharaan kata. Guru sebagai tokoh panutan juaga harus menggunakan bahasa yang pantas untuk ditiru. Misalnya dengan cara-cara yang informatif, reflektif serte menawarkan pemecahan dalam berproses terhadap siswa ( Roberts. Et al, 1989: dalam Hallahan dan Kauffman. 1994 ).
Apabila anak tampak sangat bermasalah, maka guru harus bekerjasama dengan speech language pathologist dalam lingkungan alamiah anak. Sehingga anaka belajar dari lingkungannya secara tepat dan terarah. Hal ini penting, menggingat penggunaan bahasa merupakan aktivitas sosial.
Sedangkan untuk sekolah yang tidak memiliki ahali dalam bidang bicara dan bahasa. Maka beberapa hal perlu diperhatikan dalam menangani anak-anak dengan kelainan bicara dan bahasa yaitu: Guru-guru harus :
1. Menerima anak sebagi individu sepenuhnya
2. Menerima terhadap ketidak lancaran dengan cara yang santai dan tidak memalukan
3. Tidak melihat kearah lain apabila berbicara dengan anak atau tidak mengambilalih pembicaraan anak
4. Mendorong anak untuk berbicara di muka kelas tapi jangan dengan cara memaksa
5. Menyediakan tugas-tugas dan tanggungjawab nonverbal untuk tidak terlalu menekankan kekurangannya
6. Menekanken kelebihan-kelebihan yang dimiliki anak untuk meningkatkan kepercayaan diri.
7. Mendorong partisipsi kelompok untuk mendukung anak
8. Menyediakan pengalaman berbahasa oral bagi anak, mislnya melalui kegiatan membeca berkelompok atau percakapan bahasa.
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Tunawicara adalah individu yang mengalami kesulitan atau gangguan dalam komunikasi verbal sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Anak dengan gangguan dengar/wicara dikelompokan sebagai berikut diantaranya ringan, sedang dan berat atau parah. Tingkat Faktor penyebab tuna wicara disebabkan oleh gangguan pada sebelum kelahiran (pre natal) , saat kelahiran (neo natal) dan setelah kelahiran (pos natal). Kemudian faktor Sentral, faktor periferal, faktor lingkungan dan emosional, dan faktor-faktor campuran.
Karakteristik tunawicara yang merupakan ciri-ciri fisik dan psikis : Berbicara keras dan tidak jelas, Suka melihat gerak bibir atau gerak tubuh teman bicaranya, Telinga mengeluarkan cairan, Menggunakan alat bantu dengar, Bibir sumbing, Suka melakukan gerakan tubuh, Cenderung pendiam, Suara sengau, Cadel.
Cara untuk membantu anak tunawicara adalah : Bicara harus jelas dengan ucapan yang benar, Gunakan kalimat sederhana dan singkat, Gunakan komunikasi non verbal seperti gerak bibir atau gerakan tangan, Gunakan pulpen dan kertas untuk menyampaikan pesan, Bicara berhadapan muka, Latihan gerak bibir dengan cermin, Latihan menggunakan bahasa isyarat.
Penanganan anak dengan kelainan bicara atau tuan wicara beberapa halayang dapat dilakaukan : secara medis, secara psikologis, dan dalam pendidikan.
2. SARAN
Anak tuna wicara harus dibantu agar dapat bersosialisasi dengan orang lain sehingga ia tidak dipandang melalui kekurangannya. Anak tuna wicara juga dapat dilatih seperti manusia normal pada umumnya, namun mereka hanya sulit berbicara. Tuna wicara juga memerlukan pendidikan yang dapat mendukung mereka serta menghilangkan hambatan – hambatan pada diri mereka seperti sekolah- sekolah umum dan khusus.
DAFTAR PUSTAKA
1. Mangunsong, Frieda, dkk.( 1998), Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Biasa. Jakarta: LPSP3 UI.
2. Prof. Dr. Bandi Delphie, M. A., S. E. (2006), Pembelajarn Anak Berkubutuhan Khusus. Bandung : Refika Aditama.
3. Fathin Fauziah. Http://Fathinfauziah.Blogspot.Com/2012/11/Makalah-Anak-Tunawicara.Html. 30-09-2013. 20:41
Posting Komentar untuk "GANGGUAN KOMUNIKASI ATAU TUNA WICARA"